Semua yang pernah terjadi tidak pernah lepas dari suatu tujuan pada detik kehidupan kini dan nanti. Tidak pernah ada suatu hal yang sejatinya kebetulan belaka karena setiap kebetulan justru berujung pada hal atau kejadian yang sebenarnya sangat kita inginkan ataupun tidak. setiap kebetulan justru menciptakan suatu momentum yang menuntun kita pada permasalah baru. entah permasalahn yang berakibat pada klimaksnya setiap masalah dalam kehidupan kita, ataupun permasalahan yang justru menjadi penuntun pada titik lerai permasalahn kita. Intinya tidaklah kebetulan itu ada melainkan menyertakan tujuan. Sang pencipta telah menggariskannya semua dalam jalan hidup kita. Namun kita sebagai manusia diberi anugrah berupa akal untuk memilih warna serta relief hidup kita. Tak ada satupun dari kita yang berharap akan adanya ketidaknyamanan. tak satupun dari kita yang tidak menginginkan adhesi yang menyenangkan dalam setiap interaksi kita dalam hidup kita ini. namun sejatinya seperti apakah kenyamana itu? adakah suatu tolak ukur yang absolut guna menentukan standar kenyamanan itu sendiri? Pada akhirnya kita akan kembali dalam pemikiran kita masing-masing tentang standar kenyamanan. Apakah kenyamanan merupakan suatu titik nadir dalam kehidupan kita? Kenyamanan tentu berhubungan dengan orang-orang yang pernah kita temui. Namun bisakah kita memilih dengan siapa saja orang-orang yang kita inginkan bertemu dalam garis kehidupan kita? Dapatkah kita mengelak untuk tidak dipertemukan dengan beberapa jenis orang yang tak kita inginkan bertemu?
Seperti yang aku alami dalam setiap jengkal langkah pertemuanku dengan orang lain. Kendati sore yang tengah begitu mesra bergulat dengan hujan tak urung mempertemukan aku dengan seseorang. Pun saat aku tengah berada dalam keadaan terburu-buru dipersimpangan jalan, tak pelak juga bertemu dengan satu atau beberapa orang yang senantiasa menjadi hilir bagi pertemuanku dengan pembelajaran dalam hidupku. Bisa jadi oleh sebagian orang dikatakan kebetulan. Namun aku rasa, pertemuanku dengan beberapa orang ini adalah suatu garis yang telah digoreskan Sang mahaberkehendak dalam rangka pembelajaran yang luar biasa bagi hidupku. Entah tentang kekecawaan yang menenggelamkan seluruh asa, kebencian yang membakar semua kebahagiaan, ketulusan yang mampu melahirkan kepuasan, keiklasan dalam menerima setiap keyataan dan masih banyak pembelajaran lain yang pada akhirnya menuntunku pada rasa bersyukur. Aku tak pernah habis fikir betapa Sang penyayang begitu menyayangiku, betapa aku takkan pernah menemukan cinta yang lebih besar dari cintaNya, betapa ia mencintaiku hingga ia kirimkan orang-orang yang sedemikian mencintaiku dalam ketulusan hati mereka terhadapku tuk selalu menemani setiap episode kehidupanku. Betapa sang pemilik kekekalan mencintaku hingga IA kirimkan orang-orang yang menyayangiku dalam kebencian mereka terhadapku. Sejatinya setiap orang yang telah Engkau gariskan bertemu denganku adalah anugerah untukku.
Wahai Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman tanganMU, takkan pernah aku berhenti untuk senantiasa bergantung padaMU, takkan pernah jiwa ini mampu sendiri tanpa Rahmat dan kasihMU. Sesungguhnya hidupku dan segala yang aku lakukan dalam setiap desahan nafasku adalah untukMU. Tiada yang lebih indah dari mencintaiMU, maka jangan pernah sekalipun cabut cinta ini dalam hatiku. Segala takdirku adalah untuk beribadah terhadapmu hingga aku peroleh ridho dan ampunanmu, hingga Engkau terima aku sebagai hambaMU yang berserah diri padaMU. Tiada tempat berserah diri selain kepadaMU, itulah takdirku dan itulah kenyamanan tiada tara bagiku.
Seperti yang aku alami dalam setiap jengkal langkah pertemuanku dengan orang lain. Kendati sore yang tengah begitu mesra bergulat dengan hujan tak urung mempertemukan aku dengan seseorang. Pun saat aku tengah berada dalam keadaan terburu-buru dipersimpangan jalan, tak pelak juga bertemu dengan satu atau beberapa orang yang senantiasa menjadi hilir bagi pertemuanku dengan pembelajaran dalam hidupku. Bisa jadi oleh sebagian orang dikatakan kebetulan. Namun aku rasa, pertemuanku dengan beberapa orang ini adalah suatu garis yang telah digoreskan Sang mahaberkehendak dalam rangka pembelajaran yang luar biasa bagi hidupku. Entah tentang kekecawaan yang menenggelamkan seluruh asa, kebencian yang membakar semua kebahagiaan, ketulusan yang mampu melahirkan kepuasan, keiklasan dalam menerima setiap keyataan dan masih banyak pembelajaran lain yang pada akhirnya menuntunku pada rasa bersyukur. Aku tak pernah habis fikir betapa Sang penyayang begitu menyayangiku, betapa aku takkan pernah menemukan cinta yang lebih besar dari cintaNya, betapa ia mencintaiku hingga ia kirimkan orang-orang yang sedemikian mencintaiku dalam ketulusan hati mereka terhadapku tuk selalu menemani setiap episode kehidupanku. Betapa sang pemilik kekekalan mencintaku hingga IA kirimkan orang-orang yang menyayangiku dalam kebencian mereka terhadapku. Sejatinya setiap orang yang telah Engkau gariskan bertemu denganku adalah anugerah untukku.
Wahai Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman tanganMU, takkan pernah aku berhenti untuk senantiasa bergantung padaMU, takkan pernah jiwa ini mampu sendiri tanpa Rahmat dan kasihMU. Sesungguhnya hidupku dan segala yang aku lakukan dalam setiap desahan nafasku adalah untukMU. Tiada yang lebih indah dari mencintaiMU, maka jangan pernah sekalipun cabut cinta ini dalam hatiku. Segala takdirku adalah untuk beribadah terhadapmu hingga aku peroleh ridho dan ampunanmu, hingga Engkau terima aku sebagai hambaMU yang berserah diri padaMU. Tiada tempat berserah diri selain kepadaMU, itulah takdirku dan itulah kenyamanan tiada tara bagiku.
