Pages

Kamis, Januari 20, 2011

MOM,... LOVE U

siang yang panas namun berhawa sejuk sukses mengantarkanku terlelap diatas bantal lebah kesayanganku. seharian mengikuti proses ini dan itu menjadi pendukung alasan kuat bagiku tuk tak keluar kamar dan selimutkupun semakin erat mendekapku. tiba-tiba semua kenyamananku itu terganggu oleh bunyi nada dering sms dari hpku. hhhfffft,... dengan perasaan geram bercampur kesal aku melepaskan diri dari buaian selimutku. sebenarnya ada rasa enggan tuk meraihkan tangan guna menhangkau hp tersayang itu. namun bunyi tadi membuatku susah untuk memulai tigur kembali dgn nyaman (padahal biasanya juga tidurlover). aku membuka mataku dengan malas dan kulihat layar hpku dgn genit dan cerianya menampilkan tulisan " 1 pesan, dari M ****"... huuhhh da pa sih mas ini,.. ku pencet tombolnya dan segera kubaca isinya, "(Nak, sdh siang, ayo makan dan tdur siang)kata itu yg sering diucapkan bundaku waktu kecil. pd dewasa ini tak ada lagi kaat seperti itu. Met istirahat..". sejenak aku terdiam setelah membaca isi sms itu. buakn terdiam karena ucapan slamat istirahatnya, melainkan karena ucapan sebelumnya. aku jadi ingat betapa siang ini aku telah meyianyiakan sebuah kenikmaatn besar. dari pagi hingga siang ini tadi ibuku sibuk membuatkan puding buah dan es buah dengan harapan setiba aku dirumah, aku melahap dengan senang. namun yg terjadi aku malah berkata "aku capek buk, mau tidur dulu ja, natr ja dimakan sore2". mungkin saat itu ibuku kecewa namun rasa sayang dan pengertiannya padaku mengalahkan kekecewaan itu, sehingga beliaupun berkata "nanti esnya keburu g enak, tp yaudahlah,istirahat ja dulu".
setelah membaca sms itu aku, aku teringat, betapa selama ini aku telah menyianyiakan kenikmatan siang ini. kenikmatan mendapat perhatian dan kasih sayang ibundaku.saat aku berada di tempat kos dulu, aku sangat merindukan saat2 seperti ini, tetapi siang ini akumalah menyianyiakan.bagaimana jika saat tidur, alloh tidak mengijinkanku membuka mata lagi? tentu aku tidak akan mempunyai kesempatan membehagiakan ibuku walau dengan cara melahap habis masakannya. disaat yang sama dengan saat itu, sebagian temanku mungkin masih sibuk berada di kampus atau ditempat bekerja demi menjalankan tanggung jwab mereka yang tentunya mereka pun juga sanagt ingin segera pulang dan menyantap masakan bunda mereka, sebagian lain, yang kos misalnya, tentu merasakan hal yang sama.
aku sadar selama ini jika aku pulang dari tempat kos, aku selalu menghabiskan waktuku menyendiri di kamarku, kerna aku menganggap aku rindu dengan kesendirianku dan aku melupakan fakta bahwa orang tuaku tentu ingin bercengkrama denagnku sepeerti saat dulu aku masih kecil.
sms itu membuatku sadar bahwa saat kita tengah berada seruamh dengan orang tua adalah saat yang paling banyak untuk membahagiakan mereka. karena tidak ada jaminan kita masih bisa bertemu dengan mereka lagi walau hanya sedetik kelak. saat aku masih masih menjadi siswi, setiap pagi dgn ikhlas dan penuh semangat ibu bangun lebih pagi dari yg lain dan sudah repot sendiri di dapur, dengan harapan jangan sampai aku berangkat ke sekolah tanpa sarapan. dan ketika semua sudah terhidang, aku dgn gampang mengatakan "aku gak sarapan bu, dan kesiangn ni ntar telat" dan kembali rasa sayang dan penegrtiaannya padaku mengalahkan rasa kecewanya hingga beliau masih sempat berutanya "nanti siang mau dimasakin apa?" aku menjawab " terserah, apa aja",
"apa aja ntar gak selera, gak mau makan"
"nanti pasti aku makan, ni buru2" dan tidak jarang, saat siangnya karena terlalu sibuk les ini dan itu, aku hanya pulang untuk ganti baju lalu berangkat lagi.
Padahal seharusnya,aku menyiapkan semuanya lebih pagi agar bisa membuat ibuku bangga masakannya aku lahap dengan senang, karena saat itu adalah ibadah paling mudah dan gampang, hanay dengan membuatnya lega jerih payahnya tidak sia-sia, sudah berpahala bagiku,.. batapa aku telah mengingkari ibadah2 kecil (dan sgt mudh dilakukan bahkan menyenangkan) terhadap org tua ketika serumah dengan mereka.
aku beranajak dari kamar tidurku segera melahap makanan yg telah disiapkan ibuku lalu menghampiri ibuku yang tengah tidur. tanpa berkata aku lalu tidur pula disampingnya dan memeluknya. Subhanalloh, alhamdulillah, maih bisa seperti ini bersama ibu,..

untuk mas **** trima kasih sudh bersedia menjdi jalan bagi salah satu hidayah dariNya untuk ku agar senantiasa bersyukur dan lebih mencintai ibuku,.

Minggu, Januari 09, 2011

my destiny

Semua yang pernah terjadi tidak pernah lepas dari suatu tujuan pada detik kehidupan kini dan nanti. Tidak pernah ada suatu hal yang sejatinya kebetulan belaka karena setiap kebetulan justru berujung pada hal atau kejadian yang sebenarnya sangat kita inginkan ataupun tidak. setiap kebetulan justru menciptakan suatu momentum yang menuntun kita pada permasalah baru. entah permasalahn yang berakibat pada klimaksnya setiap masalah dalam kehidupan kita, ataupun permasalahan yang justru menjadi penuntun pada titik lerai permasalahn kita. Intinya tidaklah kebetulan itu ada melainkan menyertakan tujuan. Sang pencipta telah menggariskannya semua dalam jalan hidup kita. Namun kita sebagai manusia diberi anugrah berupa akal untuk memilih warna serta relief hidup kita. Tak ada satupun dari kita yang berharap akan adanya ketidaknyamanan. tak satupun dari kita yang tidak menginginkan adhesi yang menyenangkan dalam setiap interaksi kita dalam hidup kita ini. namun sejatinya seperti apakah kenyamana itu? adakah suatu tolak ukur yang absolut guna menentukan standar kenyamanan itu sendiri? Pada akhirnya kita akan kembali dalam pemikiran kita masing-masing tentang standar kenyamanan. Apakah kenyamanan merupakan suatu titik nadir dalam kehidupan kita? Kenyamanan tentu berhubungan dengan orang-orang yang pernah kita temui. Namun bisakah kita memilih dengan siapa saja orang-orang yang kita inginkan bertemu dalam garis kehidupan kita? Dapatkah kita mengelak untuk tidak dipertemukan dengan beberapa jenis orang yang tak kita inginkan bertemu?

Seperti yang aku alami dalam setiap jengkal langkah pertemuanku dengan orang lain. Kendati sore yang tengah begitu mesra bergulat dengan hujan tak urung mempertemukan aku dengan seseorang. Pun saat aku tengah berada dalam keadaan terburu-buru dipersimpangan jalan, tak pelak juga bertemu dengan satu atau beberapa orang yang senantiasa menjadi hilir bagi pertemuanku dengan pembelajaran dalam hidupku. Bisa jadi oleh sebagian orang dikatakan kebetulan. Namun aku rasa, pertemuanku dengan beberapa orang ini adalah suatu garis yang telah digoreskan Sang mahaberkehendak dalam rangka pembelajaran yang luar biasa bagi hidupku. Entah tentang kekecawaan yang menenggelamkan seluruh asa, kebencian yang membakar semua kebahagiaan, ketulusan yang mampu melahirkan kepuasan, keiklasan dalam menerima setiap keyataan dan masih banyak pembelajaran lain yang pada akhirnya menuntunku pada rasa bersyukur. Aku tak pernah habis fikir betapa Sang penyayang begitu menyayangiku, betapa aku takkan pernah menemukan cinta yang lebih besar dari cintaNya, betapa ia mencintaiku hingga ia kirimkan orang-orang yang sedemikian mencintaiku dalam ketulusan hati mereka terhadapku tuk selalu menemani setiap episode kehidupanku.  Betapa sang pemilik kekekalan mencintaku hingga IA kirimkan orang-orang yang menyayangiku dalam kebencian mereka terhadapku. Sejatinya setiap orang yang telah Engkau gariskan bertemu denganku adalah anugerah untukku.

Wahai Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman tanganMU, takkan pernah aku berhenti untuk senantiasa bergantung padaMU, takkan pernah jiwa ini mampu sendiri tanpa Rahmat dan kasihMU.  Sesungguhnya hidupku dan segala yang aku lakukan dalam setiap desahan nafasku adalah untukMU. Tiada yang lebih indah dari mencintaiMU, maka jangan pernah sekalipun cabut cinta ini dalam hatiku. Segala takdirku adalah untuk beribadah terhadapmu hingga aku peroleh ridho dan ampunanmu, hingga Engkau terima aku sebagai hambaMU yang berserah diri padaMU. Tiada tempat berserah diri selain kepadaMU, itulah takdirku dan itulah kenyamanan tiada tara bagiku.